Di Gunung Kong, kehidupan mengalir seiring arus sungai. Bagi sebagian warga, perahu bukan sekadar alat transportasi—melainkan rumah, tempat bernaung, sekaligus pusat aktivitas sehari-hari.
Dari fajar hingga senja, denyut hidup berlangsung di atas air: memasak, bekerja, beristirahat, bahkan berinteraksi sosial.Keterbatasan lahan dan kondisi geografis mendorong warga beradaptasi dengan cara unik. Perahu-perahu kayu disusun rapi di tepian sungai, diikat kuat agar tetap stabil saat air pasang.
Di atasnya, tampak dapur sederhana, tempat tidur, dan ruang kecil untuk menyimpan hasil tangkapan. Anak-anak belajar menjaga keseimbangan sejak dini, sementara orang dewasa menggantungkan penghidupan pada sungai—menangkap ikan, berdagang, atau mengangkut barang.Meski hidup sederhana, solidaritas warga Gunung Kong terjaga erat.
Mereka saling membantu saat cuaca buruk, berbagi hasil tangkapan, dan bergotong royong memperbaiki perahu. Tradisi dan kearifan lokal menjadi penopang, menjaga harmoni antara manusia dan alam.Namun, tantangan tak terelakkan.
Perubahan cuaca ekstrem, naik-turunnya permukaan air, hingga keterbatasan akses pendidikan dan layanan kesehatan menjadi persoalan yang terus dihadapi. Meski demikian, semangat bertahan dan beradaptasi tetap menyala—menjadikan Gunung Kong potret ketangguhan hidup di atas perahu.